Tampilkan postingan dengan label DUNIA PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Menanam Bawang Merah (Brambang) Secara Vertikultur

Vertikultur, Solusi Bertani di Lahan Sempit
Dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) bukan halangan petani untuk bercocok tanam.

IR HM. SUHADI dengan tanaman bawang merah yang ditanam berjenjang (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)
http://jatim.vivanews.com/news/read/162902-vertikultur--solusi-bertani-di-lahan-sempit

SURABAYA POST - Sempitnya lahan pertanian sering menjadi alasan petani enggan bercocok tanam. Padahal dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) seperti yang dilakukan Suhadi, pengusaha agrobinis dan petani di Kota Pasuruan, lahan terbatas bukan halangan bertani.

“Terus terang saya bukan penemu cara bercocok tanam model vertikultur. Saya hanya ingin memperkenalkan vertikultur dan mengajak masyarakat di kota untuk gemar bercocok tanam walaupun di lahan sempit di halaman rumah,” ujar Suhadi ditemui di Tegalbero Camp miliknya di Tegalbero, Kel. Wirogunan, Kota Pasuruan.

Tegalbero Camp merupakan model pertanian terpadu yang mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak). Melalui Lembaga Pengembangan Kewirausahaan (LPK), Suhadi menggarap lahan Tegalbero Camp seluas sekitar 2,5 hektare, yang terletak sekitar 1 km di pinggiran Kota Pasuruan.

“Saya ingin Tegalbero Camp ini menjadi model pertanian terpadu yang bisa diikuti warga kota termasuk bagaimana cara bertanam di lahan sempit dengan vertikultur,” ujar alumnus jurusan agronomi, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Suhadi mengakui, sejumlah petani bergidik menyaksikan model pertanian vertikultur. “Dikira biayanya mahal, padahal sebenarnya murah karena media tanam bisa dipakai berkali-kali panen,” ujarnya.

Suhadi bersama sejumlah petani mencoba bertanam ala vertikultur di bawah naungan rumah kaca (green house) sederhana. Green house berukuran 10 x 10 meter persegi itu ditutup dengan kelambu plastik warna hitam.

Di dalamnya terdapat 300 tonggak dari batang paralon setinggi masing-masing 2 meter. “Satu lonjor paralon PVC ukuran talang rumah panjangnya 4 meter dipotong jadi dua bagian,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.

Sebatang tonggak (paralon) itu kemudian dilubangi menjadi 120 lubang dengan ukuran diameter 10 cm. Dari sini mulai diketahui biaya awal yakni, sebatan paralon (4 meter) sekitar Rp 35 ribu. “Yang jelas harga satu tonggak plus biaya melubanginya sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.

Setelah itu patok-patok itu diisi dengan media tanam berupa campuran abu batu, arang batok kelapa, dan pupuk kandang. Di bagian tengah tonggak diisi paralon kecil seukuran 0,5 dim yang bersambung ke selang plastik seukuran selang infus.

“Air bercampur nutrisi atau pupuk kemudian dialirkan dalam tonggak melalui selang plastik yang biasa digunakan untuk akuarium itu,” ujarnya.

Prinsipnya, pengairan harus rutin dan merata menuju pangkal tanaman.
Menurut Suhadi, kondisi tanah harus berporos, tidak boleh padat mengeras.

Sejumlah jenis tanaman seperti bawang merah, tomat, lombok, hingga sawi bisa ditanam di lubang-lubang pada tonggak paralon. Sudah beberapa kali ia menanam tomat, lombok, dan bawang merah. “Saya bisa memanen bawang merah seberat 4 kilogram dalam satu tonggak,” ujarnya.

Dengan harga bawang merah sekitar Rp 15 ribu/kg, berarti satu tonggak menghasilkan Rp 60 ribu/tonggak. “Dengan biaya paralon Rp 20 ribu per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60 ribu per tonggak masih untung lumayan. Padahal saya menanam 300 tonggak,” ujarnya.

Suhadi mengakui, umbi bawang merah yang ditanam di paralon tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut.

Sejumlah warga mulai tertarik mengikuti jejak Suhadi bertanam ala vertikultur. “ Ada prajurit Yon Zipur yang datang ke sini kemudian mencoba bertanam, demikian juga sejumlah warga,” ujarnya.

Memang ada sebagian warga yang datang langsung bergidik begitu mengetahui peralatan dan media tanam vertikultur. “Pipa paralon kan murah, bisa dipakai menanam berkali-kali. Untuk pengairan bisa menggunakan botol plastik air minum yang diletakkan di ketinggian, tanaman diperlakukan seperti pasien yang diinfus,” ujar Suhadi.

Suhadi pun mengaku banyak mempelajari vertikultur melalui internet, buku, dan majalah. “Di Jepang karena kesulitan lahan, vertikultur di atap gedung. Paralon pun bisa diganti kaleng cat tembok yang disusun ke atas,” ujarnya.

Bahkan ada warga yang nekat mengganti paralon dengan besek (plastik) untuk wadah berkat kenduri. “Ada juga pabrik rokok yang menggantikan paralon dengan plastik tipis, tentu saja gampang robek,” ujarnya.

Bertanam ala vertikultur pun memikat banyak pihak, paling tidak untuk mencoba. “Ada dinas yang meminjam tonggak paralon untuk pameran, ada Pramuka yang pinjam untuk lomba lalu jadi juara di tingkat propinsi,” ujar Suhadi. Anda berminat?

Rabu, 10 Agustus 2011

Budidaya Cabai Organik

Cabai merupakan komoditas yang  menjadi primadona, hingga saat ini apapun kwalitasnya tetap diburu, dalam kesempatan ini kita akan memaparkan kiat bagaimana mengelola tanaman cabai dimusim hujan dan ketika kemarau, dalam metode ini lebih difokuskan pada pengolahan tanaman cabai.
    Yang tak kalah penting adalah pemilihan varietas termasuk mengenali jenis dan varietas yang akan ditanam, contoh varietas lokal yang tahan dengan musim hujan adalah cabai besar Tit Super LV dan cabai keriting lokal:

1)     Tit Super LV
Cabai jenis ini merupakan cabai besar dataran rendah yang cocok ditanam sepanjang musim, terutama musim penghujan, pertumbuhan vegetatif tanaman sangat kuat, batang utama memiliki lateral sedikit sehingga cabang utama tegak dan tinggi, tajuk tanaman kompak, kurang beflihn dan berukuran sedang, buah berwarna merah tua saat sudah matang, panjang buah 12-14cm dengan diameter 1,5cm, umur panen 90 HSS dengan potensi penghasilan 20 ton per hektar.
2)     Keriting lokal
Banyak Varietas cabai keriting lokal yang tahan terhadap, hujan sehingga sangat sesuai dengan daerah tropis, adalah cabai keriting yang telah diseleksi
a)   Cemeti
    Varietas ini mempunyai ketahanan terhadap penyakit dan baik ditanam walaupun musim penghujan, bentuk buah kecil, panjang dan keriting, warna merah cerah saat masak dan sangat pedas, panen perdana, dapat dilakukan pada saat 75-85 HST.
b)    Laris
    Varietas ini dapat ditanam pada ketinggian 0-700 m, keseragaman tanaman tinggi, batang tegak, besar, dan kuat degan percabangan banyak, panjang buah 16-18 cm, dengan warna buah merah mengkilap pada waktu masak, masa panen 90-100 HST.
Kenali Sifat varietas Hibrida Pilihan.
Beberapa Varietas cabai hibrida seperti long chili, amando, hot chili tidak tahan digempur dengan hujan terus menerus, sangat sedikit varietas hibrida yang mampu bertahan pada musim hujan karena umumnya bukan berasal dari indonesia, jadi alangkah baiknya bila menggunakan benih cabai hibrida yang pembenihannya dikembangkan diindonesia atau paling tidak salah satu indukya berasal dari indonesia.
1.      Hot Beauty
Cabai ini lebih toleran (agak tahan) terhadap, serangan penyakit pada musim hujan dibanding dengan varietas lainnya, walaupun bukan berasal dari indonesia, mempunyai pertumbuhan yang subur, ukuran daunnya sedang, pembentukan buahnya terus menerus sehingga masa panen lebih lama, panjang buah rata-rata 13cm, diameter 1,4cm, berat rata-rata 7,9g, masa panen dataran rendah 75 hari sedang pada dataran tinggi 90-100 hari.
2.   Senopati (F1 Hybrid)
Tanaman yang dikembangkan di Indonesia ini mempunyai ketahanan hama dan penyakit lebih baik pada dataran rendah sampai menengah (100-800), ukuran daun sedang, pembentukan buah terus menerus sehingga masa panen agak lama, berat rata-rata 8-10 gr, masa panen umur 80 (dataran rendah) dan 90-100 (dataran tinggi)
3. Sakti
Varietas kering hibrida dari jenis ini mempunyai percabangan rimbun dan kokoh, buah merah
cerah,dengan rasa pedas sedang, pembungaan terus menerus selama suplay
hara terpenuhi, masa panen 85-90 HST, varietas ini mempunyai daya adaptasi lingkungan baik serta
mempunyai daya tahan terhadap hama dan penyakit serta virus dalam level medium, hanya saja cukup
sensitif terhadap penggunaan N jadi hindari penggunaan Urea dan ZA.
4. New Taro ( F1 hybrid)
Varietas ini merupakan perbaikan varietas taro yang pernah beredar, mempunyai ukuran buah lebih besar dibanding cabai keriting dengan berat rata-rata 3-4g, masa panen 90-105 HST, tanaman besar dan kekar denga ruas percabangan besar yang panjang, mampu berproduksi didataran rendah dan tinggi sampai 1000m, kelebihannya relatip tahan penyakit layu bakteri.

5. Bagayo (F1 Hibryd)
       Cukup flexibel dikembangkan mulai dataran rendah hingga tinggi, sosok tanaman besar dan kokoh, buah keriting besar dengan berat rata-rata 4 g, masa panen 90-100 HST. 
     6. Kunthi
      Buah varietas kunthi keriting, kulitnya kasar dengan ujung runcing, seragam seperti bentuk cabai keriting lokal, tanaman kokoh, bisa beradaptasi didataran rendah, menengah dan tinggi, masa panen panjang, kualitas buah bagus dan bisa dikomsumsi segar dalam bentuk cabai hijau maupun merah serta dapat pula dikeringkan.


     7.   Lado (F1 hybrid)
Varietas Lado sanagt cocok dikembangkan didataran rendah, sosok tanaman besar dan kekar dengan cabang yang panjang, berat buah rata-rata 3-4gr, masa panen 115-120 hari

     8.   Hybrid TM-999
Sistem pertumbuuhan sangat kuat dan tanaman tinggi, berasal dari Hungnong korea, masa panen cukup lama karena berbunga terus-menerus dengan ukuran buah 12,5cm x 0,8 cm dengan berat 5-6gr, masa panen pertama 90 HST daerah dataran rendah dan 105 HST didaerah dataran tinggi, rasa sangat pedas sekali sehingga cocok untuk digiling dan dikeringkan, hasil pertanaman 0,8-1,2 kg.
     9.   Maraton
Cocok untuk ditanam didataran rendah hingga menengah (0-800 m), tanaman tegak dan kokoh, serta memiliki tajuk yang sangat lebat dan kompak, justru tanaman ini memiliki keimunan genetis yang tinggi, tahan terhadap penyakit layu Pseudomonas, Patek/Antraknosa, dan bercak daun bakteri, varietas ini sangat cocok ditanam pada akhir musim kemarau atau musim penghujan, berat rata-rata 12,5-14,3g, masa panen pertama 70-75 dengan basil pertanaman 1-1,5kg, buah lebih tahan penyimpanan dan transportasi jarak jauh.
    10.  CTH-01
Mempunyai bentuk buah yang bretel-bretel keriting mempunyai produktifitas yang sangat tinggi bahkan paling tinggi dari semua varietas cabai hibryd yang ada.
    11.  Home Flavor
Cabai besar hibrida introduksi dari Known-you Seed ini belum banyak ditemui dipasaran, tinggi sedang buah warna hijau tua pada saat muda dan setelah matang menjadi merah cerah, buah lurus memanjang dan ramping dengan panjang rata-rata 16cm, lebar l,5cm dengan berat rata-rata 18g, buah sangat pedas serta cocok ditanam dimusim penghujan.

PILIH LOKASI TANAMAN
1.  Hindari Lokasi Bekas Lahan Tanaman Solanaceae (tanaman family) Pilih lokasi bekas, pertanaman padi atau setidak-tidaknya bukan bekas lahan cabai dan familynya (tomat, kentang, terong, dsb), lahan bekas tanaman kedelai, kacang hijau, buncis, jagung, kubis bunga, semangka, dsb dapat ditanami cabai dimusim hujan, letak lahan yang akan diusahakan sebaiknya juga jauh dari tanaman cabai, tomat, terong karena hama dan penyakit yang terdapat pada tanaman tersebut akan pindah ke tanaman yang lain yang lebih muda
2.  Usahakan lokasi mendapat penyinaran yang optimal
Pada musim hujan sinar matahari yang terik jarang muncul, oleh karena itu penanaman cabai dimusim hujan sebaiknya dilakukan didaerah yang terbuka.
3.   Hindari Tanah Liat dan Masam
Jenis tanah yang sangat liat/ lengket (kurang poros) seperti tanah grumosol dan podzolik merah kuning sebaiknya dihindari karena pembuangan air lebih sulit kemudian tanah latosol coklat, andosol, dan jenis tanah lain yang mudah membuang kelebihan air merupakan tanah ideal untuk bertanam cabai dimusim hujan, PH sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman cabai, pada musim hujan PH <6, harus dihindari karena tanah masam sangat sesuai untuk perkembangan penyakit tanaman yang tertular lewat tanah seperti layu fusarium dan phytophtora. PH 5,5-6,8 sangat baik untuk budi daya cabai, sedangkan PH optimal 6,0-6,5 akan tetapi PH di Indonesia rata-rata, PH 4,0-5,5. ber-PH masam harus ditingkatkan dengan menambahkan kapur (kalsit/dolomit), abu secam dsb.
4. Usahakan Ketingian 200-600 M
Lokasi penanaman cabai pada musim hujan dapat berada pada semua ketinggian dari 0-­1200m, namun untuk mencapai hasil yang masimal 200-600m karena pada ketinggian diatas 600m kabut sudah wring turun sehingga kelembaban terlalu tinggi akibatnya perkembangan penyakit sangat cepat.

HASILKAN BIBIT YANG KEKAR DAN SEHAT
1. Media penyemaian
Sebaiknya gunakan campuran tanah, pupuk kandang (kompos) dengan perbandingan 2:1, kemudian semprotkan dengan Mikro Power 3 tutup,Bio Mikron 1 tutup dan OTO 2 tutup per tangki (seperti membuat kompos) dan tidak perlu pupuk dasar kimia, masukkan polibag semai berukuran 8x10 cm atau 6x10 cm, pengisian sebaiknya tidak terlalu penuh (cukup 90% sambil ditekan-tekan)
2. Berilah perlakuan Agar Benih Bebas Penyakit
  Perlakuan basah
    Rendam bibit dengan Mikro Power dan Bio Mikron serta Herbal Mikro Power (masing – masing 1 tutup/5L air) 1 jam, kemudian ambil handuk yang dibasahi dengan air yang telah dicampur dengan larutan pupuk lalu masukan kedalam kaleng bekas biskuit yang dalamnya diberi lampu 15 W, handuk harus selalu dijaga kelembabannya dengan cara disiram larutan Mikro Power,Bio Mikron dan Foton X, setelah 3 atau 4 hari benih telah berkecambah 0,5-01,0 mm dan siap disemaikan.
Perlakuan kering
Rendam bibit dengan Mikro Power,Bio Mikron dan Herbal Mikro Power masing – masing 1 tutup/5L air dalam l jam, kemudian keringkan dan siap dimasukan ke polibag.
3. Semaikan Benih Secara Benar
Media penyemaian seperti poin 1, setelah bibit dimasukan ke dalam polibag maka tutup dengan abu secara campuran tanah yang sudah dihaluskan (2:1) kemudian sirami dengan larutan Mikro Power dan Bio Mikron ( untuk memberikan suasana hangat yang dibutuhkan dalam perkecambahan biji, permukaan persemaian ditutup dengan karung goni yang selalu dijaga kelembabannya, pada hari ke 3 atau 4 lakukan pengamatan) 
4.   Buat Rumah Pembibitan
     Rumah pembibitan dibuat untuk melindungi bibit yang masih muda dari terik matahari, air hujan dan serangan hama dan penyakit, dibawah polibag dilapisi kertas koran agar perakaran bibit tidak menembus kedalam tanah.
5                             5. Peliharalah Bibit Secara Efektif
1)  Jadwal pembukaan dan penutupan sungkup
Pagi hari sampai jam 10.00 sungkup harus dibuka
2)  Penyiraman Media tumbuh
Kelembapan media tumbuh harus tetap dikontrol setiap hari, bila kekurangan air siram dengan larutan Mikro Power dan Bio Mikron (1:5), jika terjadi keterlambatan akibatnya bibit akan menjadi kerdil sehingga bila dipaksakan ditanam akan mengalami pertumbuhan yang kurang meskipun pemupukan terpenuhi.
3)  Penyiangan Gulma
Kelembaban menyebabkan rumput-rumput liar atau gulma berdaun lebar tumbuh dimedia semai, gulma ini biasanya terbawa dalam pupuk kandang, cabut gulma secara hati-hati agar akar bibit tidak ikut terangkat.
4)  Pemberian pupuk
Apabila pertumbuhan kurang subur lakukan penyemprotan dengan Mikro Power (4 tutup),Bio Mikron(1 tutup) Dan Foton X(1 tutup)
5)  Pengendalian hama
Bila musim penghujan serangan yang terjadi kebanyakan berupa cendawan rebah (phythium aphanidermatum), tak jarang pula serangan ulat tanah (agrotis ipsilon) _potong batang_ lakukan penyemprotan pengendalian dengan Herbal Mikro Power (3 tutup),Bio Mikron  & Foton X (1 tutup)
6)  Penyortiran bibit
Dilakukan menjelang tanam ke lahan (mempunyai ketinggian, jumlah daun dan ukuran lingkar batang yang sama), sebaiknya bibit yang kurang sehat atau kurang baik tidak ditanam karena jika dipaksakan tanam maka hasilnya akan megecewakan. 
Persiapkan lahan
1)  Bila musim penghujan maka bedengan dibuat dengan ukuran lebar 100-110cm dan selokan 60-70cm (lebih lebar dari musim kemarau), hal ini dilakukan untuk memperlancar sirkulasi udara dan mempermudah penyemprotan selain itu kondisi tanaman akan lebih subur pada musim penghujan sehingga tajuk tanaman tidak akan saling bertumpukan.
2)     Panjang bedengan usahakan tidak lebih 12 m untuk mempermudah pemeliharaan dan pembuangan air yang berlebihan.
3)     Tinggi bedengan minimal 50 cm agar akar tanaman tidak tergenang air pada saat hujan deras.
4)    Lakukan penyemprotan Mikro Power (3tutup)+ 1 tutup Bio Mikron & 1 tutup Foton-X  pada lahan kemudian pengapuran atau penebaran abu sekam untuk menaikan PH, selain itu juga dapat menambah unsur hara kalsium (ca), Mg yang sangat diperlukan tanaman, kapur pertanian yang dapat digunakan yaitu kalsit/kaptan CaCO3 dan dolomit Ca Mg(03)2, pengapuran pada saat musim penghujan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pembajakan. (Tidak diperbolehkan menggunakan pupuk dasar kimia sintesis).
5)     Pupuk kandang diberikan pada saat bedengan selesai 70%, setelah ditebarkan selanjutnya semprot dengan larutan Mikro Power  (3tutup)+ 1 tutup Bio Mikron & 3 tutup OTO dan dicangkul kecil-kecil agar pupuk kandang bersatu dengan tanah bedengan, lalu bedengan dirapikan dengan menghaluskan/ meratakan permukaan tanah, sebelum mulsa dipasang semprotkan Mikro Power (3tutup)+ 1 tutup Bio Mikron & 5 tutup OTO
6)     Pemasangan mulsa sebaiknya dilakukan pada pukul 09.00-16.00  sebab dalam kondisi panas, mulsa plastik hitam akan mudah mengembang bila ditarik kencang, sehari menjelang tanam, dibuat lubang penanaman pada mulsa PHP dengan diameter 10cm.
7)  Jarak tanam pada sistem zig-zag 60x65cm sedangkan sistem berhadapan 60x70cm, untuk mendapatkan hasil yang maksimal jarak tanam dibuat dengan cara. zig-zag.
8)     Gunakan bibit pada dataran rendah sampai menengah (0-700) pada umur 20 hari (cabai hibryd), 25hari (cabai lokal) atau dengan banyak daun 3-5 daun sejati.

Lakukan pemupukan Mikro Power, Bio Mikron, Foton-X 1 tutup untuk 5 liter pada hari ke 3 dengan sistem siram (1:5)  yang dilakukan setiap minggu sekali, selain itu pada 7 hari setelah tanam lakukan penyemprotan berkabut Mikro Power (2tutup)+ 1 tutup Bio Mikron & 1 tutup Foton-X, penyemprotan berikutnya dengan interval waktu 4/5 hari sekali secara berkabut, untuk antisipasi serangan hama dan penyakit, tambahkan  Herbal Mikro Power (2tutup) boleh diberikan bersamaan pada saat pemupukan Mikro Power.

Budidaya PADI ORGANIK


        Revolusi Hijau merupakan upaya meningkatkan produksi pangan melalui usaha Pengembangan teknologi pertanian, dimulai sejak dekade '60 dengan label pertanian modern, kegiatannya meliputi penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, pestisida kimia, pada tahun '84 Indonesia berhasil sebagai negara yang berswasembada pangan, akan tetapi revolusi hijau berdampak negatif yaitu meningkatnya penggunaan pupuk dan pestisida kimia padahal mencemari  lingkungan dan menyebabkan keracunan pada manusia.
90% dari residu pestisida yang terdapat didalam bahan makanan adalah senyawainsektisida golongan oganoklorin, senyawa ini dapat bertahan lama dialam dan akan tertimbun didalam tubuh hewan dan manusia melalui rantai makan (kebayakan senyawa tersebut tertimbun dalam jaringan lemak), pada dasarnya organoklorin memberikan pengaruh kepada sistem saraf danean lokasi berbeda-beda, contoh:
1.     seyawa DDT( dikhloro difenil trikloetana) mempengaruhi hingga menyebabkan sistem saraf dalam keadaan tidak stabil, rongga yang terkena DDT tidak mampu mengendalikan kontraksi otot-ototnya.
2.     Senyawa BHC (benzen heksakhorids) dan aldrin dapat menyerang sistem saraf pusat.
3.     PCNB (penta cloro nitro benzen) dapat menyebabkan kanker
Atas dasar tersebut diatas maka banyak penyakit yang dikaitkan dengan adanya residu kimia sintesis dari pupuk dan pestisida.
Pertanian organik merupakan suatu sitem pertanian yang didesain dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan produktivitas yang berkelanjutan, prinsip pertanian organik adalah pertanian yang menerapkan atau menggunakan pupuk organik, pestisida dan fungisida organik serta harus mampu menyediakan hara bagi tanaman dan mengendaliakan serangan hama dengan kata lain tidak menggunakan pupuk kimia sintetik dan pestisida, serta fungisida kimia sintetik pula, jadi efisiensi penanaman padi organik secara konvesional adalah selisih harga, pupuk kimia sintetik dan selisih harga pestisida serta fungisida kimia sintetik, disamping
1.     Meningkatkan lingkungan kerja yang aman dan sehat
2.     Memperbaiki dan menyuburkan kondisi lahan serta menjaga kesinambungan ekosistem Meningkatkan dan menjaga produktivitas lahan pertanian dalam jagka panjang serta memelihara kelestarian SDA dan lingkungan
3.     Menciptakan lapangan kerja baru dan kehanonisan social di pedesaan
4.     Menghasilkan pangan yang cukup aman dan berkwalitas sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat dan sekaligus daya saing produk agrobisnis
5.     Harga jual yang relatif tinggi
Jenis Padi 
varietas INPARI (INPARI 1-6), dan 3 Varietas INPARA (INPARA 1-3).
Deskripsi varietas-varietas baru tanaman padi tersebut adalah:
  1. Inbrida Padi Irigasi (INPARI)
  2. Inbrida Padi Irigasi, atau lebih dikenal dengan INPARI adalah, Varietas-varietas unggul bari padi sawah yang cocok ditanam di lahan sawah irigasi.
1. INPARI 1
Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 952/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008. Ciri-ciri varietas ini bentuk tanaman tegak, dengan tinggi tanaman 93 cm, jumlah anakan produktif mencapai 16 anakan, dan tekstur nasi pulen.
Keunggulan varietas ini adalah ketahanan terhadap wereng batang coklat biotipe 2, serta agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, selain itu varietas INPARI 1 mempunyai ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri, serta
tahan rebah. Umur tanaman yang relatif pendek (108 hari) adalah keunggulan lain dari varietas ini. Yang paling penting dari suatu varietas unggul adalah potensi produksi yang cukup tinggi, rata-rata produksi varietas INPARI 17,32
ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) serta mempunyai potensi produksi 10 ton/ha GKG.
2. INPARI 2
Varietas INPARI 2 termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman 85-95 cm, dengan jumlah anakan 15 anakan. Potensi hasil Varietas ini adalah 7,30 ton/ha dengan rata-rata hasil
5,83 ton/ha. Varietas ini cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl. Varietas INPARI 2 agak tahan terhadap hama wereng batang coklat, penyakit hawar daun bakteri, penyakit virus tungro. Varietas ini dilepas berdasarkan Keputusan            Menteri   Pertanian     No.
951/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
3. INPARI 3
Varietas INPARI 3 cocok ditanam pada lahan irigasi dengan ketinggian sampai 600 m dpl. Varietas ini termasuk dalam golongan cere, dengan umur tanaman 110 hari. Potensi hasil varietas yang dilepas berdasarkan Keputusan Menteri
Pertanian No. 953/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008 ini mencapai 7,52 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,05 ton/ha. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang coklat dan agak tahan terhadap penyakit Hawar daun bakteri,
dan penyakit virus tungro inokulum variasi 073, 013 dan 031.
4. INPARI 4
Tidak begitu berbeda dengan Varietas INPARllainnya, INPARI4 juga memiliki ketahanan terhadap ham a . wereng batang coklat, dan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, serta agak tahan penyakit virus tungro inokulum
varian 073 dan 031. Potensi hasil 8,80 ton/ha dengan rata-rata hasil 6,04 ton/ha. Varietas ini termasuk dalam golongan cere dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 95-105 cm, dan 16 jumlah anakan. Varietas INPARI4
dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 954/Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17Juli 2008.
5. INPARI 5 MERAWU
Varietas INPARI 5 dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 955/Kpts/SR.120/7/2008 tanggal 17 Juli 2008. Varietas ini termasuk golongan cere, dengan umur tanaman 115 hari, tinggi tanaman 100-105 cm, dan jumlah
anakan 15 anakan. Varietas INPARI 5 agak rentan terhadap hama wereng batang coklat Biotipe I, 2, dan 3, tetapi varietas ini agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri, dan penyakit virus tungro inokulum varian 073 dan
031. Padaumumnya varietas . INPARI 5 cocok ditanam pad a lahan irigasi dengan ketinggian sampai dengan 600 m dpl.
6. IN PARI 6 JETE
Termasuk golongan cere indica dengan umur tanaman 118 hari, tinggi tanaman 100 cm, jumlah anakan 15 batang. INPARI 6 memiliki tekstur nasi sangat pulen dengan kadar amilosa 18 %. Potensi produksi varietas INPARI 6 produktivitas 8,60 ton/ha GKG; 12 ton/ ha GKG. Varietas ini tahan rebah, serta tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 2 dan 3 serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, IV dan strain VIII. Varietas INPARI 6 JETE diiepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 956/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
Inbrida Padi Rawa (IN PARA) Inbrida Padi Rawa adalah varietas-varietas unggul padi yang baik dibudidayakan pada kondisi lahan rawa, tahan terhadap rendaman, serta daya adaptasi pada kondisi lahan masam.
I. INPARA I
Varietas INPARA I termasuk dalam golongan Cere Indica, dengan umur tanaman 131 hari, bentuk tanaman tegak, tinggi tanaman III cm, jmlah anakan produktif varietas INPARA I dapat mencapa 18 anakan. Apabila ditanam pada kondisi lahan rawa lebak rata-rata hasil dapat mencapai 5,65 ton/ha, sedangkan apabila ditanam pada kondisi lahan rawa pasang surut rata-rata hasllnya lebih rendah yaitu 4,45 ton/ha. Varietas INPARA I memiliki potensi
hasil cukup tinggi yaitu 6,47 ton/ha. lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut umumnya mengandung Fe dan AI cukup tinggi, kedua unsur ini apabila dalam kondisi banyak dapat menyebabkan keracunan pada tanaman.
Varietas IN PARA I memiliki toleransi keracunan Fe dan AI serta agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat Biotipe I dan 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan bias. Varietas ini cocok ditanam di daerah
rawa lebak dan rawa pasang surut. Varietas INPARA I dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor.
957/ Kpts/SR.120/7/2008 Tanggal 17 Juli 2008.
2. INPARA 2

INPARA 2 merupakan varietas yang termasuk dalam golongan cere indica, varietas ini agak tahan terhadap wereng batang coklat Biotipe 2 serta tahan terhadap hawar daun dan blass, serta memiliki toleransi terhadap keracunan Fe
dan AI. INPARA 2 baik ditanam pada lahan pasang surut dan lahan rawa lebak. Ciri dari varietas ini adalah umur tanaman 128 hari, bentuk tanaman tegak, ketahanan terhadap rebah sedang, tinggi tanaman 103 cm dengan jumlah
anakan produktif mancapai 16 batang. Potensi hasil INPARA 2 mencapai 6,08 ton/ha dengan rata-rata hasil pada lahan rawa lebak 5,49 ton/ha, dan pada lahan rawa pasang surut 4,82 ton/ha. Varietas INPARA 2 dilepas berdasarkan
Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 958/Kpts/SR.120/7!2008 tanggal 17Juli 2008.
3. INPARA 3
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 960/Kpts/SR.120/7I2008 Tanggal 17 Juli 2008 Varietas INPARA 3 dilepas. INPARA 3 agak toleran rendaman selama 6 hari pada fase vegetatif, agak toleran keracunan Fe dan AI,
baik ditanam di daerah rawa lebak, rawa pasang surut potensial dan di sawah irigasi yang rawan terhadap banjir. Varietas INPARA 3 termasuk dalam golongan cere indica, tekstur nasi pera, dengan umur tanaman 127 hari, tinggi
tanaman 108 cm, bentuk tanaman tegak, dengan jumlah anakan produktif 17
anakan. Potensi hasil lNPARA 3 mancapai 5,6 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,6 ton/ ha GKG.
Persiapan yang harus dilakukan
  1. Benih
1)      Berasal dari tanaman yang mampu berproduksi tinggi dan usahakan telah menggunakan sistem organik
2)      Mampu beradaptasi secara balk dengan lokasi penanaman setempat.
Alangkah baiknya tidak menggunakan padi GMO (genetically Modified Organisms) Bila tersebut diatas tidak tersedia maka gunakan bibit bukan organik namun benih tetap dengan perlakuan organic
3)      Pembuatan benih lebih baik d ambil dari lahan sendiri.
  1. Pupuk kandang
Pupuk kandang berasal dari KOHE yang bercampur dengan sisa makanan dan urine ternak, pupuk kandang mengandung unsur makro seperti N, K, Ca dan fosfor serta unsur Mikro seperti Al, Mgn, Fe dan Zn, pupuk kandang juga memberikan pengaruh sifat fisik tanah yang baik serta mampu menyelamatkan kadar Humus sehingga mempertahankan struktur tanah dan menjadikan tanah mudah diolah serta menjadi kecukupan O2.

2)             Pengolahan Lahan

Bersihkan dan perbaiki pematang sawah, buat parit dibagian tengah dan tepi untuk memudahkan drynase (pemasukan dan pembuangan air)
 Sebar jerami secara merata dilahan
bajak lahan sedalam 25-30 cm menggunkan bajak singkal, semprotkan OTO                                                                                        (sampai habis dan rata)
 Sebaiknya biarkan 7 hari dalam kondisi tergenang air agar jerami cepat mengelami
dekomposisi
 Gunakan garu untuk meratakan tanah,semprotkan POWER HARA(habis dan merata)
 Lahan yang siap ditanami usahakan dalam kondisi sedikit air
 1 hari sebelum tanam tebarkan pupuk kandang dan Mikro Power ¾ tutup per tangki 14 liter.



3. Penanaman

         Jarak tanam 4:1
Penanaman padi dengan cara tanam jajar legowo 4:1 merupakan cara tanam dengan bentuk pertanaman yang memberi ruang (barisan yang tidak ditanami) pada tiap 2 barisan tanam dengan ketentuan sebagai berikut:
1.   Jarak tanam dalam barisan 10cm
2.   Jarak tanam antar barisan 20cm
3.   Jarak tanam antar 2 barisan 40 cm (legowo)


          Jajar legowo 2:1
Teknik penanaman dengan cara tanam legowo 2:1 merupakan cara tanarn dengan bentuk pertanaman yang memberi ruang (barisan yang tidak ditanami) pada setiap empat barisan tanam (bibit ditanam perempat baris) denga jarak tanam sebagai berikut:
Pada 2 baris pinggir:
1)  Jarak tanam dalam barisan 20cm
2)  Jarak tanam antar barisan 10cm
3)  Jarak tanam antar 2 barisan 40 cm (legowo) Pada 2 baris tengah
4)     Jarak tanam dalam barisan 20cm
5)     Jarak tanam antar baris 20 cm

4. Penanaman Bibit
Berikut Teknik penanaman bibit ke lahan
1)     Umur bibit 14-16 hari dengan jumlah 1 bibit per lubang
2)     Usahakan pangkal bibit tidak terlipat dan perakarannya masuk lurus kedalam
 
5. Penyulaman Bibit
Penanaman bibit muda perlu diperhatikan pertumbuhannya, jika bibit yang tidak tumbuh, patah atau dimakan keong segera lakukan penyulaman

6. Pemupukan secara Organik
Tanaman berumur 3 hari semprotkan Mikro Power 2-4 tutup,Bio Mikron 1 tutup dan Foton X 1 tutup tiap tangki  secara tipis merata dengan interval waktu 3 hari sebanyak 3x penyemprotan, untuk penyemprotan berikutnya dengan dosis pemakaian Mikro Power 2-4 tutup, Bio Mikron 1 tutup dan Foton X 1 tutup tiap tangki  dengan interval waktu 5 s/d 7 hari sampai menjelang panen.

 Aplikasi semi Organik padi
Sebaiknya penanaman pada sekat benih berumur 14 s/d 16 hari, sebelum tanam semprotkan Mikro Power 2-4 tutup,Bio Mikron 1 tutup dan Foton X 1 tutup tiap tangki  secara tipis merata, setalah padi berumur 3 hari lakukan penyemprotan pertama dengan aplikasi 4 tutup dalam 1 tangki, pada umur 7 hari pupuk dengan Urea dengan aplikasi 1 Hektar 150kg secara tipis merata ( lebih cenderung sebagai stater), pemupukan berikutnya 3 hari setalah pemupukan dengan Urea, lakukan pemupukan dengan menyemprotkan Mikro Power 2-4 tutup,Bio Mikron 1 tutup dan Foton X 1 tutup tiap tangki , langkah berikutnya adalah dengan interval waktu 6 s/d 7 hari lakukan penyemprotan dengan Mikro Power 2-4 tutup,Bio Mikron 1 tutup dan Foton X 1 tutup tiap tangki 14 liter sampai menjelang panen (memping ijo)
Penggunaan Urea dengan pengurangan
Pada MT 1 Urea 150kg/H
Pada MT 2 Urea 100kg/H
Pada MT 3 Urea 50kg/H